Jokowi Dikritik: Disebut Lebih Banyak Bermain Politik Ketimbang Jadi Negarawan
VAZnews.com — Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataannya dinilai sebagai tindakan politik semata, bukan sebagai wujud kenegarawanan. Pernyataan ini disampaikan oleh analis sosial politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun dalam sebuah episode podcast yang tayang di kanal YouTube SindoNews.
Menurut Ubedilah, fenomena Jokowi yang menarik simpati publik atau menanamkan rasa cinta terhadap dirinya secara berlebihan oleh sebagian orang perlu dilihat secara kritis. Ubedilah menyebut cara tersebut sebagai hal yang tidak sepenuhnya murni dan cenderung menunjukkan orientasi politis Presiden, bukan tindakan negarawan.
Kritik Ubedilah: Jokowi Masih “Politisi”
Dalam pernyataannya, Ubedilah mempertanyakan sikap Jokowi yang sampai sekarang dinilai belum sepenuhnya menunjukkan karakter seorang negarawan — yaitu figur yang mengambil kebijakan untuk kepentingan negara secara luas tanpa memperhatikan keuntungan politik atau citra pribadi.
Ubedilah melihat fenomena sejumlah orang yang datang ke rumah Jokowi di Solo, Jawa Tengah, dan menunjukkan rasa kagum atau cinta kepada presiden, sebagai anomali sosial. Ia menyebut situasi tersebut sebagai sesuatu yang bisa saja dipelihara untuk tujuan tertentu, bukan refleksi hubungan autentik antara pemimpin dan rakyat.
Dalam pandangan sosiologi, menurut Ubedilah, perilaku orang sering kali didasari oleh “teori pertukaran sosial” — di mana setiap tindakan dilakukan dengan harapan mendapatkan sesuatu kembali. Ia menilai, hal semacam ini lazim terjadi dalam konteks politik.
Ubedilah sendiri merupakan analis sosial politik yang kerap memberikan pandangan kritis terhadap fenomena politik di Indonesia. Dalam kesempatan lain, ia bahkan dikenal sebagai akademisi yang vokal dalam menyuarakan kritik kepada kebijakan pemerintah di berbagai isu, termasuk pidato kenegaraan atau cara pemerintah merespons berbagai persoalan publik — meski ia juga merupakan tokoh yang sempat mengalami dinamika akademik di lingkungan kampus sebelumnya.
Namun, penilaian terkait “politikus” atau “negarawan” ini bukan sekadar istilah retoris. Dalam kajian ilmu sosial, istilah negarawan sering dipahami sebagai sosok pemimpin yang berpikir jauh melampaui kepentingan politik sesaat dan menempatkan kepentingan bangsa sebagai prioritas utama — jauh di atas kepentingan kelompok atau pribadi.
Fenomena di mana banyak pihak tampak cenderung melihat sosok Jokowi dengan pandangan yang sentimental dan personal sering muncul di ruang publik. Ada yang memandangnya sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, sedangkan kritik tajam seperti yang diutarakan Ubedilah menunjukkan adanya sudut pandang berbeda dari kalangan akademisi.
Ubedilah sendiri tidak menafikan bahwa seorang pemimpin mesti terhubung dengan rakyatnya. Akan tetapi, ia memperingatkan bahwa hubungan emosional ini bisa dimanfaatkan dalam konteks politik dan bisa menutupi evaluasi kritis terhadap kualitas kepemimpinan itu sendiri.
Pernyataan Ubedilah ini muncul di tengah dinamika politik nasional yang terus berkembang. Di beberapa kesempatan sebelumnya, berbagai pihak juga menyoroti pentingnya figur negarawan dalam sejarah Indonesia — sosok yang tidak hanya berkutat pada urusan politik praktis, tetapi juga berpikiran jauh ke depan demi kepentingan bangsa.
Istilah “politisi” sering dikaitkan dengan figur yang berorientasi pada perolehan kekuasaan atau citra politik, sedangkan “negarawan” merujuk pada figur yang mengutamakan kepentingan rakyat dan bangsa dalam jangka panjang — sebuah debat yang kerap muncul terutama saat momentum politik penting atau saat evaluasi kinerja pemerintahan tengah berlangsung.