Tekanan Jual Asing Masih Mengintai: BBCA & Beberapa Saham Big Cap Kembali Jadi Sasaran
![]() |
| Foto: Ilustrasi IHSG |
VAZnews.com — Aksi jual investor asing di pasar saham domestik masih menjadi sorotan pelaku pasar. Meski laporan perdagangan terbaru menunjukkan adanya net buy asing sebesar Rp 341,3 miliar pada Kamis (26/2/2026), sejumlah saham masih mencatat tekanan jual yang signifikan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali masuk dalam daftar yang menjadi sorotan aksi jual asing, menunjukkan bahwa sentimen global masih memengaruhi dinamika pasar modal Indonesia.
Dalam laporan perdagangan tersebut, total nilai transaksi asing yang dijual tercatat mencapai Rp 8,122 triliun dari keseluruhan transaksi senilai sekitar Rp 16,584 triliun. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun ada investor asing yang melakukan pembelian bersih, tekanan jual masih terlihat cukup kuat di beberapa saham unggulan.
BBCA: Selalu Masuk Radar Jual Asing
Saham BBCA menjadi salah satu yang paling mendapatkan perhatian dari investor global. Dalam beberapa periode terakhir, saham bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia ini mencatat net sell asing yang cukup besar di berbagai perdagangan. Bahkan sepanjang tahun berjalan, BBCA pernah mencatat tekanan jual asing sebesar Rp 16,26 triliun, jauh lebih besar dari saham lain yang dilepas asing.
Fenomena ini membuat saham BBCA kerap masuk dalam radar jual investor asing. Meski saham ini tetap menjadi salah satu pilar industri perbankan Indonesia, minat jual yang terus muncul dari pihak asing mengindikasikan adanya kekhawatiran terhadap prospek jangka pendek maupun tekanan pasar yang lebih luas.
Saham Big Cap Lain Ikut Terseret
Selain BBCA, sejumlah saham besar lainnya juga menunjukkan gelagat serupa di mana investor asing melakukan aksi jual bersih meskipun dalam jumlah berbeda. Data dari periode sebelumnya menunjukkan saham-saham seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga menjadi sorotan net sell asing, meski tidak sebesar BBCA.
Penjualan saham-saham big cap ini memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan, termasuk terhadap pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang sempat mencatat koreksi signifikan beberapa hari terakhir. Aksi jual tersebut tampaknya menjadi bagian dari pola investor asing untuk melakukan rotasi portofolio di tengah ketidakpastian pasar global.
Sentimen Global Terus Mempengaruhi Bursa
Sektor perbankan, yang selama ini menjadi pilar penting dalam struktur IHSG, tampaknya masih menjadi target aksi investor asing dalam konteks pegelolaan risiko. Meskipun indeks mencatat net buy bersih secara agregat pada perdagangan terakhir, tekanan jual di saham besar menunjukkan bahwa investor besar masih berhati-hati dalam menempatkan modal mereka di pasar Indonesia.
Beberapa analis pasar menyatakan bahwa aksi jual ini mungkin terkait dengan sentimen global terhadap pasar negara berkembang, termasuk kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dan volatilitas pasar keuangan internasional.
Dampak Tekanan Jual pada IHSG
Kombinasi net buy asing yang relatif kecil dan tekanan jual pada saham-saham big cap bisa menciptakan volatilitas yang tinggi di IHSG. Aksi jual bersih asing pada saham seperti BBCA berdampak pada penurunan harga saham dan kemudian memberikan kontribusi pada koreksi indeks secara keseluruhan.
Pasar modal Indonesia sejauh ini masih menunjukkan respons yang beragam terhadap dinamika aksi asing ini. Sementara beberapa saham masih dikoleksi oleh investor lokal maupun asing, saham-saham unggulan yang jadi sorotan jual asing menunjukkan bahwa risiko pasar masih terbilang tinggi.
Perlunya Kewaspadaan Investor
Investor di pasar saham domestik dianjurkan untuk terus memantau pola transaksi asing, terutama pada saham big cap seperti BBCA yang menjadi sorotan utama. Pergerakan harga saham-saham ini tidak hanya memengaruhi portofolio investor besar, tetapi juga dapat berdampak pada pergerakan IHSG secara keseluruhan.
Dalam situasi di mana net buy dan net sell berjalan bersamaan, strategi alokasi aset yang hati-hati menjadi penting untuk mengurangi risiko volatilitas yang tinggi. Investor juga disarankan memperhatikan faktor-faktor fundamental perusahaan serta sentimen pasar global yang memengaruhi keputusan investasi asing.
