Rumah Jokowi Mendadak Dijuluki “Tembok Ratapan Solo”, Aksi Netizen Berujung Fenomena Nyata
VAZnews.com — Kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo, mendadak ramai diperbincangkan publik. Penyebabnya bukan agenda politik atau kegiatan resmi, melainkan perubahan nama lokasi di Google Maps menjadi “Tembok Ratapan Solo”.
Perubahan label digital itu muncul pada Sabtu, 15 Februari 2026, dan dengan cepat menyebar di media sosial. Warganet ramai membagikan tangkapan layar Google Maps yang menunjukkan nama tersebut terpasang di titik lokasi rumah pribadi Jokowi.
Fenomena itu kemudian berkembang. Tidak berhenti sebagai editan digital, sejumlah warga mendatangi rumah tersebut dan melakukan aksi simbolik di depan pagar. Dalam beberapa video yang beredar, terlihat seorang pemuda berdiri dengan kepala tertunduk serta kedua tangan menempel pada pagar rumah, menyerupai gestur “meratap”. Aksi itu lalu diikuti oleh beberapa orang lainnya.
Menanggapi ramainya perbincangan, ajudan pribadi Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, menegaskan bahwa rumah tersebut merupakan kediaman pribadi, bukan lokasi wisata maupun tempat ibadah.
Meski demikian, pihak keluarga disebut tidak merasa terganggu atas kedatangan warga. Namun, masyarakat tetap diimbau agar tidak melakukan aktivitas tertentu yang menyerupai ritual di depan rumah tersebut.
Fenomena ini juga sempat memunculkan aktivitas doa bersama di depan lokasi, yang kemudian menjadi bagian dari perbincangan publik di media sosial.
Lahirnya istilah “Tembok Ratapan Solo” memicu diskusi mengenai motif di balik perubahan nama tersebut. Apakah sekadar keisengan netizen atau bentuk kritik sosial?
Deputi Sekretaris Center for Digital Society (CfDS) UGM, Iradat Wirid, menilai perubahan nama lokasi di peta digital bisa masuk dalam dua kategori: ekspresi digital atau vandalisme digital, tergantung niat dan tujuannya.
Menurutnya, jika dilakukan tanpa tujuan jelas selain mengikuti tren viral, maka lebih tepat disebut sebagai aksi iseng digital. Namun, jika terdapat pesan atau kritik sosial di baliknya, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai bentuk aktivisme digital.
Simbolisme “Tembok Ratapan”
Istilah “Tembok Ratapan” merujuk pada situs bersejarah di Yerusalem yang dikenal sebagai tempat doa dan perenungan. Dalam konteks di Solo, penggunaan istilah tersebut bersifat metaforis dan berkembang sebagai simbol di ruang digital.
Penggunaan simbol semacam ini menunjukkan bagaimana ruang virtual dapat memengaruhi ruang fisik. Sebuah perubahan nama di aplikasi peta mampu mendorong orang datang langsung ke lokasi nyata.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana batas antara dunia maya dan dunia nyata semakin tipis. Apa yang bermula dari editan nama lokasi di Google Maps, berkembang menjadi kunjungan warga dan perbincangan luas di media sosial.
Meski demikian, rumah tersebut tetap merupakan hunian pribadi keluarga Jokowi.